TURUNNYA NUURUL QUR’AN DALAM DIRI

tasbih

Rasullullah Bersabda “Barang siapa yang memberitahukan berita Nuzulul Qur’an kepada yang lain, maka Haram An Nar baginya”.

Allah telah menciptakan segala sesuatu selalu berpasang-pasangan. Kerana segala ciptaan sudah ditetapkan selalu berpasang-pasangan, berarti Al Qur’an pun demikian, yakni ada Al Qur’an yang berwujud lahir :

“Sesungguhnya Kami menjadikan Al Qur’an berbahasa Arab supaya kamu berfikir “.
(Az zukhruf 43 : 3 )

“Sesungguhnya Kami telah memudahkan AI Qur’an itu dengan bahasamu agar dapat engkau memberi khabar gembira dengannya kepada orang-orang bertaqwa dan agar engkau memberi peringatan denganya kepada kaum yang membangkang “.
(QS Maryam 19 : 97)

Dan ada Al Qur’an yang berwujud batin (AI Qur’an yang hakiki). Al Qur’an yang hakiki jangan direlevansikan dengan lembaran kertas yang diatasnya di tulis dengan tinta hitam dalam bahasa Arab, yang berisi tentang berita dari Yang Maha Kuasa. Al Qur’an yang berupa lembaran kertas itu ditulis pada zaman khalifah Usman ratusan tahun setelah turunnya Al Qur’an yang hakiki.

Al Qur’an hakiki yang dibawa Jibril (Jabr Ilahi) adalah berupa getaran-getaran yang maha hebat. Jibril tidak mengantarkan kepada Nabi Muhammad lembaran Al Qur’an yang berupa kertas yang kita kenal sekarang, yang ditulis di batu-batu atau di pelepah-pelepah kurma agar mudah diingat.

Qul nazzalahuu ruuhul kudusi mir rabbika bil haqqi
“Katakanlah : “Ruhul Kudus menurunkan Al-Qur’an dari Rabb dengan benar”. ( An-NahI 16 :102).

Jibril (Jabr Ilahi) membawa Al-Qur’an itu dari sisi Rab-Nya. Allah berada pada dimensi yang maha halus berarti sangat mustahil Jibril (Jabar Ilahi) membawa Qur’an berupa kertas yang kasar.
“Iqra” itulah ayat yang pertama kali sekali turun, dan bukan kertas dan juga bukan suara tetapi wahyu. Kata “Iqra” adalah kata-kata yang telah ditransfer ke dalam bahasa Arab agar orang Arab atau Bani Adam saat itu dapat mengerti. Tetapi “Iqra” yang sejati ditransfer dari wahyu tanpa huruf dan tanpa suara.

Yang paling jelas apa itu AI-Qur’an yang hakiki adalah sesuai dengan firman Allah dalam AI Qur’an :

Wa innahu flu ummil kitaabi ladainaa la’alayyun hakiim
“Dan sesunggunya AI-Qur’an itu dalam induk Al-Kitab (lauh Mahfuz) di sisi Kami adalah benar-benar tinggi dan amat banyak mengandung hikmah” (QS Az Zukhruf 43:4 )

Jadi Al-Qur’an yang hakiki berada di sisi Allah yaitu di Lauhul Mahfuz, di alam yang sangat halus. Yang demikian itulah yang dibawa oleh Jibril (Jabr Ilahi) , sehingga sewaktu Nabi menerimanya terasa amat berat sekali, seperti yang disabdakannya dalam hadits berikut:

Dari Aisya ibu kaum muslimin r.a bahwasannya Harits bin Hisyam r.a bertanya kepada Rasulullah s.a.w, “wahai Rasulullah bagaimana datangnya wahyu kepada engkau? ”
Rasulullah s.a.w, bersabada, “kadang-kadang wahyu datangnya kepadaku seperti gemerincingnya loceng, itulah yang paling berat atasku, kemudian wahyu itu terputus (selesai) dan saya telah hafal tentang apa yang dikatakannya;
kadang-kadang malaikat itu menampakkan dirinya kepadaku maka saya hafal tentang apa yang dikatakannya, ”
Aisya r.a berkata, “saya melihat beliau ketika wahyu sedang turun pada suatu musim yang sangat dingin, kemudian wahyu itu terputus (selesai) sedang kening beliau mengalirkan keringat (Shahih Bukhari).

“Kadang-kadang wahyu itu seperti gemerincing loceng, itulah yang paling berat atasku….”

inilah isyarat bahwa Al Qur’an itu bukan bahasa dan realita yang sebenarnya hanya Allah dan Rasulnya yang tahu. Kalau kita ambil sebuah perumpamaan bahwa apa yang dibawa oleh Jibril (Jabar Ilahi) saat itu berupa gelombang-gelombang Cahaya dan setelah berada di bibir dan lidah Rasulullah berubah menjadi gelombang-gelombang suara.

Bila kita banding-bandingkan dengan suara petir bagaimanapun besarnya tidak pernah mencucurkan keringat manusia yang mendengarnya, namun ketika Nabi menerima wahyu beliau sampai mencucurkan keringat padahal dalam cuaca yang cukup dingin. Beliau pada saat itu merasa betapa beratnya menerima wahyu yang berupa Nur atau getaran tinggi itu, sebab Al-Qur’an adalah Nur yang Maha hebat getarannya, melebihi getaran Nuklear, melebihi getaran sang iblis, lebih dari malaikat, dan lebih dari bencana apapun namanya di dunia ini. Al Qur’an adalah sesuatu yang hidup, sesuatu yang ghaib di balik yang ghaib.

Lau anzanaa haadzal qur-aana’alla jabalil la ra-aitahuu khaasyi’am mutashaddi’ammin khasyyatillaahi wa tikal amtsaalu nadhribuhaa lin naasi la’allahum yatafakkaruun
“Seandainya kami menurunkan AI-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk pecah belah disebabkan takut kepada Allah, dan perumpamaan¬perumpamaan itu kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir. (QS Al Hasyr 99:21)

Inilah Al Qur’an yang mencucurkan keringat Nabi ketika menerimanya dari Ruhul Kudus. Inilah Al Qur’an dari Lauhul Mahfuz yang maha dahsyat dari sisi Allah, Raja di langit dan di bumi. Al Qur’an itulah yang dapat menghancurkan gunung itu. Lalu bagaimana dengan Al-Qur’an yang ditulis dalam bahasa Arab yang kita baca sehari-hari? Apakah ia bisa menghancurkan gunung?

Mari kita uji, bawa Al Qur’an yang berupa kertas itu lalu letakkan di atas gunung mana yang hancur, gunung atau Al Qur’an yang berupa kertas itu?

Al Qur’an yang tertulis itu hanya menjadi petunjuk untuk mengenal Al Qur’an yang hakiki. Yang perlu kita gali sekarang ini adalah Al Qur’an dengan segala kehebatannya bagaimana cara untuk mendapatkannya.

Bertanyalah kepada ahli dzikir jika engkau tidak mengetahui karena merekalah teknokratnya. Itulah maksud Tuhan dengan firman-Nya :
Tsumma auratsnal kitaabal ladziinash thafainaa’ibaadinaa –
kemudian kitab itu kami wariskan kepada *orang-orang yang kami pilih* di antara hamba¬hamba Kami ( QS Faathir 35:32).

Orang yang berhak menerima warisan Al Qur’an itu adalah mereka yang rohaninya hampir dengan Nabi, kalau tidak akan hancurlah orang itu, sebab Al-Qur’an itu maha hebat getarannya, melebihi dari getaran tenaga listrik, atom dan nuklear. Inilah Al Qur’an yang hakiki dari Rabbul Alamin.

Mari kita perhatikan kalimat di atas, “….kepada orang yang kami pilih, sesuatu pengkhususan bukan umum. Jadi, yang bisa mewarisinya adalah orang-orang pilihan. Siapakah orang pilihan itu ?

Laa yamassuhuu illal muthahharuun –
“AI-Qur’an (ini) tidak disentuh kecuali bagi orang-orang yang disucikan” (QS Al Waaqi’ah 56 79).

Dalam berita yang sangat popular bahawa Nabi sebelum mengadakan perjalanan Isra’ dan Mi’raj beliau dioperasi terlebih dahulu oleh Jibril dalam rangka menggalas tugas menerima sholat untuk mendapatkan Al Qur’an. Dalam tempoh bertahun-tahun beliau bertapa di Gua Hira untuk mencapai kesucian sebab beliau nantinya akan menerima Al Qur’an yang maha hebat. Kemudian mari kita renungi Nabi adalah kekasih-Nya baru bisa dan berhak menerima Al Qur’an yang hakiki tersebut harus terlebih dahulu harus disucikan.

Lantas bagaimana dengan diri kita masing-masing apakah berhak menerima Qur’an itu sebelum disucikan?

Ingat di sini bukan kata “menyucikan” tetapi “disucikan” jelas berbeda maknanya.

Al Qur’an yang harus kita warisi itu adalah yang dibawa Jibril (Jabar Ilahi) ke dalam hati Nabi.
Nazala bihir ruuhul amiin –
“Dia (AI-Qur’an) di bawa turun oleh ar ruh Al Amin”. (QS Asy syu’araa 26 : 193).

Bagaimana Jibril (Jabr Ilahi) memberikan AI Qur’an itu? Apakah dengan kata-kata yang di dengar ditelinga lalu dihafal oleh Nabi atau berupa lembaran-lembaran kertas dari surga atau berupa batu atau kayu yang ditulis, lalu Nabi membaca dan menghafalnya ?
‘Alas qalbika –
“Ke dalam Qalbu-mu (hai Muhammad) “. (QS Asy Syu’araa’ 26 : 194 ).

Al Qur’an diturunkan ke dalam hati kerana qalbu itu memiliki sifat-sifat khusus, kerana alasan itulah Al Qur’an diturunkan ke dalam qalbu. Al-Qur’an merupakan misteri, sesuatu misteri dalam misteri, suatu misteri yang terdiri dari dan diliputi oleh misteri. Oleh karena itu perlu bagi Al-Qur’an untuk menjalani proses penurunan guna mencapai tingkat yang terendah dari manusia.

Disinilah kunci kelemahan sebagian umat Muslim dewasa ini, mereka telah salah persepsi terhadap Al Qur’an akhirnya mereka terpendam jauh ke lumpur kelupaan. Al Qur’an hanya dijadikan sebagai sebuah nyanyian (mengaji). Sebagaimana hadis qudsi berikut :
“Saya tii’alaa ummatii zamaanun laa yabqaa diinuhum illaa ismuhuu walaa mina) qur aani illaa rasmuhuu
“Akan datang pada waktuku, suatu masa di mana agama Islam tinggal namanya dan Al-Qur’an tinggal tulisannya”. (H.R. Ibnu Majah dan tirmidzi).

Yang bisa berbahasa Arab, Al Qur’an itu dibaca maknanya, sejarahnya, kemudian dipermainkan diotaknya, lalu dikajinya sebagaimana proses pengkajian ilmu-ilmu filsafat. Tetapi Al Qur’an yang hakiki itu tetap tidak bisa dijangkau oleh akal.

“Bawasannya AI-Qur’an ini satu hujungnya di tangan Allah dan satu lagi di tangan kamu hai Muhammad” (H. R. Abu Syurairah Al Khuja’l).
Yang satu ujungnya di tangan Nabi, maksud hadits tersebut bukan lahirnya tetapi masih merupakan hakikat dan sangat tersembunyi di dalam diri Rasulullah.

“Al-Qur’an itu memiliki lahir dan batin, akhir dan awal” (Al Hadits).

Langkah Memahami AI-Qur’an dan Hadits
Ketahuilah bahwa Al-Qur’an dan hadits itu suatu wujud ilmu Allah yang satu, yang tiada berkesudahan atau tanpa batas.

Fikiran manusia adalah suatu penampilan jiwa yang sangat terbatas kepada empirik, tentang apa yang dilihat dan dirasakan, itu dihubung-hubungkan dengan kemudian membuat satu hipotesis atau kesimpulan.

Sebab Al-Qur’an itu adalah wahyu yang dimasukkan oleh Jibril ke dalam qalbu. la datang dari alam metafisik lalu hinggap di alam fisik.

AI-Qur’an yang batin tidak bisa ditemukan Iewat pendidikan formal. la hanya bisa ditemukan Iewat wasilah-Nya (pilihan Nya) dan lewat pengosongan diri dan dilanjutkan dengan melakukan metode liqo’ Allah.

Akhirnya dapat disimpulkan bahwa Al Qur’an itu Nur yang dipancarkan oleh Jibril (Kekuatan Allah = Jabr Allah) ke dalam hati Muhammad, lalu ia menjadi kekuatan yang tidak sebanding dengan bumi dan langit. Memperolehnya harus membersihkan diri. Adapun penghayatan semata-mata jalan untuk memperoleh karunia Allah, yang pada akhirnya kita akan mendapatkan Cahaya Al Qur’an atau Nurul Qur’an secara terus daripada Allah dan kerajaan Nya.

Carilah mursyid mu sementara masa masih ada…
Jangan berhenti setakat Islam, tapi majulah kepada Iman, lalu sampai kepada Ehsan…

Love. Kasih sayang menurut Allah dan Rasulullah

مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ

Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu.

Surah Ad-Duha (93:3)

وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الْأُولَىٰ

Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan).

Surah Ad-Duha (93:4)

وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَىٰ

Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu , lalu (hati) kamu menjadi puas.

Surah Ad-Duha (93:5)

وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۗ وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا

Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.

Surah An-Nisa’ (4:125)

قُلْ لِمَنْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ قُلْ لِلَّهِ ۚ كَتَبَ عَلَىٰ نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ ۚ لَيَجْمَعَنَّكُمْ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ لَا رَيْبَ فِيهِ ۚ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ فَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ

Katakanlah: Kepunyaan siapakah apa yang ada di langit dan di bumi. Katakanlah: Kepunyaan Allah. Dia telah menetapkan atas Diri-Nya kasih sayang. Dia sungguh akan menghimpun kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya. Orang-orang yang meragukan dirinya mereka itu tidak beriman.

Surah Al-An’am (6:12)

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَٰنُ وُدًّا

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.

Surah Maryam (19:96)

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.

Surah Ar-Rum (30:21)

ذَٰلِكَ الَّذِي يُبَشِّرُ اللَّهُ عِبَادَهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ ۗ قُلْ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَىٰ ۗ وَمَنْ يَقْتَرِفْ حَسَنَةً نَزِدْ لَهُ فِيهَا حُسْنًا ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ شَكُورٌ

Itulah (karunia) yang (dengan itu) Allah menggembirakan hamba-hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh. Katakanlah: Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan. Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.

Surah Asy-Syura (42:23)

Akhlak. Moral.

Nabi Muhammad SAW bukan sahaja mempelopori tauhid, tapi terlebih dulu membina akhlak mulia, kesucian jiwa.

Abu Hurairah meriwayatkan, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sungguh, aku telah diutuskan untuk menyempurnakan akhlak mulia.” (HR. Baihaqi dan Al-Hakim).

Anas RA berkata, “Sungguh, Rasulullah SAW benar-benar manusia dengan akhlak yang paling mulia. (HR Bukhari-Muslim).

Hisyam bin Amir pernah bertanya kepada Aisyah RA mengenai akhlak Rasulullah SAW. Aisyah menjawab, “Akhlak Nabi SAW adalah Al-Quran.” (HR Muslim).

Al hadis; Muhammad adalah Al-Quran bergerak.

Sebagaimana kita ummat mengaku mengenal Rasullullah, kita juga dituntut untuk kenal dan sempurnakan akhlak Rasullullah, Al-Quran….

Adakah kita ghairah/ passion nak mencapainya?

Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat dan Injil dan (Al Quran) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas dan dari bawah kaki mereka. Diantara mereka ada golongan yang pertengahan. Dan alangkah buruknya apa yang dikerjakan oleh kebanyakan mereka. Surah Al-Ma’idah (5:66)

Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (Al-Quran), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. Surah Al-Hadid (57:16)

PENYUCIAN DIRI

Dua jenis penyucian:

  • Pertama penyucian zahir, dilakukan dengan membasuh tubuh dengan air mutlak.
  • Keduanya ialah penyucian batin, diperolehi dengan sedar kekotoran di dalam diri, sedar dosa dan bertaubat dengan ikhlas . Penyucian batin perlu dibimbingan.

Nabi s.a.w bersabda, “Pada setiap pembaharuan wuduk Allah perbaharui kepercayaan hamba-Nya yang cahaya iman digilap dan memancar dengan lebih bercahaya” . Dan, “Mengulangi bersuci dengan wuduk adalah cahaya di atas cahaya”.

Kesucian batin boleh hilang, dengan sifat buruk iblis, syaitan dan hawa nafsu yang buruk perangai, sombong, takabur, menipu, mengumpat, fitnah, dengki dan ammarah. Sedar dan tidak sedar ia beri kesan kepada roh: bibir berdusta, telinga dengar umpat dan fitnah, tangan memukul, kaki berjalan kepada kejahatan.

Nabi s.a.w bersabda, “Mata juga berzina”. Panah syaitan berada di MATA. Dari mata turun ke hati. Hati merosakkan otak…

Al Baqarah

14. dan apabila mereka bertemu Dengan orang-orang Yang beriman, mereka berkata: ” Kami telah beriman “, dan manakala mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka berkata pula: ” Sesungguhnya Kami tetap bersama kamu, sebenarnya Kami hanya memperolok-olok (akan orang-orang Yang beriman)”.

15. Allah (membalas) memperolok-olok, dan membiarkan mereka meraba-raba Dalam kesesatan mereka (yang melampaui batas itu).

16. mereka itulah orang-orang Yang membeli kesesatan Dengan meninggalkan petunjuk;

Bila kesucian rohani batal, wuduknya adalah . taubat yang ikhlas, sedar kesalahan sendiri, . menyesal, disertai air mata yang membasuh jiwa, . berazam tak ulangi lagi, tinggalkan semua kesalahan, dengan memohon keampunan Allah, . berdoa agar Dia mencegah daripada buat dosa lagi.

Solat menghadap Allah. Berwuduk, di dalam kesucian, syarat untuk solat. Penyucian zahir tidak cukup sebab Allah melihat ke dalam lubuk hati, yang perlu wuduk dengan cara bertaubat.

Firman Allah: “Inilah apa yang dijanjikan untuk kamu, untuk tiap-tiap orang yang bertaubat, yang menjaga (batas-batas)”. (Surah Qaaf, ayat 32).

Penyucian tubuh dan wuduk zahir terikat dengan masa kerana perkara yang membatalkan wuduk. Penyucian alam batin, wuduk bagi diri tidak kelihatan, tak tentu masa. Ia untuk seluruh kehidupan abadi.

Dosa dan Pahala menurut Al-Quran dan Hadis

Image

===========
Dosa & Pahala
===========
Setiap amal perbuatan kita akan diperhitungkan. Hidup adalah medan ujian untuk menilai siapakah manusia terbaik di kalangan berbillion hamba-hamba Allah.

Dalam perjalanan rohani mentauhidkan Allah, melalui Islam, Iman dan Ehsan… Feqah, Usuluddin, Tasawwuf…
Allah swt menguji hambanya dalam setiap tingkatan, masa, ruang, mengikut kehendakNya

تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Maha Suci Allah Yang di tangan-Nya-lah segala kerajaan,
dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu,
Surah Al-Mulk (67:1)

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun,
Surah Al-Mulk (67:2)

Dalam menghadapi ujian Allah, dia menyediakan suatu index/ kayu ukur sebuah tindakan, apakah masuk kategori kesalahan (Dosa) atau kebaikan (Pahala) itu, adalah ketenangan dan ketidaktenangan dalam diri…….dalam hati.

Rasulullah berkata:
”Mintalah fatwa kepada hati dan jiwamu.
Kebaikan (pahala) ialah apa yang menyebabkan jiwa dan hati tenteram kepadanya, sedangkan dosa ialah apa yang merisaukan jiwa dan menyebabkan ganjalan dalam dada walaupun orang-orang telah memberi fatwa kepadamu”. (HR. Muslim)

“Tinggalkanlah apa-apa yang meragukanmu (dosa, maka berpindahlah) kepada apa-apa yang tidak meragukanmu (pahala), kerana jujur itu adalah ketenangan (pahala) dan dusta itu adalah keraguan (dosa).”
(HR. At-Tirmidzi)

Hadis daripada Al-Nawwas bin Sam’aan al-Ansari R.A bahawa Rasulullah s.a.w bersabda;
”Dosa adalah apa yang menimbulkan keresahan di jiwamu dan kamu benci ia dilihat manusia.” (Riwayat Muslim)

وَلَوْ أَنَّهُمْ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَمَثُوبَةٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ خَيْرٌ ۖ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

Sesungguhnya kalau mereka beriman dan bertakwa, (niscaya mereka akan mendapat ketenangan), dan sesungguhnya pahala (ketenangan) dari sisi Allah adalah lebih baik (daripada dosa), kalau mereka mengetahui.
Surah Al-Baqarah (2:103)

Hadis daripada Abu Hurairah R.A bahawa Rasulullah s.a.w bersabda;
”Sesiapa yang berniat untuk melakukan suatu kebaikan namun dia tidak melakukannya, ditulis juga untuknya satu kebaikan (pahala).
Sesiapa yang berniat melakukan kebaikan lalu dia melakukannya, dituliskan untuknya sepuluh kebaikan (pahala) sehingga tujuh ratus gandaan. Sebaliknya sesiapa yang berniat melakukan kejahatan namun dia tidak melakukannya, tidak akan ditulis sebarang kejahatan untuknya, jika dia melakukannya barulah ditulis (dosa satu kejahatan untuknya)”.
(Riwayat Muslim)

Bagaimana campur tolak dosa dan pahala?
==============================
وَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ ۚ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ۚ ذَٰلِكَ ذِكْرَىٰ لِلذَّاكِرِينَ

Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik (pahala) itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.
Surah Hud (11:114)

Pahala, Dosa boleh erase/ padam/ tambah/ kurang?
====================================
Katakanlah (wahai Muhammad): “Wahai hamba-hambaKu yang telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri (dengan perbuatan-perbuatan maksiat), janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah, kerana sesungguhnya Allah mengampunkan segala dosa; sesungguhnya Dia lah jua Yang Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani. (Az-Zumar 39:53)

Dan juga orang-orang yang apabila melakukan perbuatan keji, atau menganiaya diri sendiri, mereka segera ingat kepada Allah lalu memohon ampun akan dosa mereka – dan sememangnya tidak ada yang mengampunkan dosa-dosa melainkan Allah -, dan mereka juga tidak meneruskan perbuatan keji yang mereka telah lakukan itu, sedang mereka mengetahui (akan salahnya dan akibatnya). (Ali ‘Imraan 3:135)

Dalam meningkatkan Iman seterusnya ke Ehsan:
===================================
اقْرَأْ كِتَابَكَ كَفَىٰ بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيبًا

Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu.
Surah Al-Isra’ (17:14)

Di dunia ini, sentiasa zikir, fikir dan ikhtiar… Bahasa modern ini kita panggil Plan Do Check Action…
Allah kurniakan kita masa… Masa yang cukup untuk kita menghisab diri… Allah telah kurniakan kita sebuah neraca… Al-Furqan …Untuk mempertimbangkan tindakan kita atas segala ujian Allah.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

Hai orang-orang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqaan. Dan kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah mempunyai kurnia yang besar.
Surah Al-Anfal (8:29)

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا

Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan (Al Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam,
Surah Al-Furqan (25:1)

وَأَوْفُوا الْكَيْلَ إِذَا كِلْتُمْ وَزِنُوا بِالْقِسْطَاسِ الْمُسْتَقِيمِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Dan sempurnakanlah sukatan (pertimbangan) apabila kamu menyukat (membuat pertimbangan), dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.
Surah Al-Isra’ (17:35)

Tempat simpanan dosa dan pahala?
==========================
كَلَّا إِنَّ كِتَابَ الْفُجَّارِ لَفِي سِجِّينٍ

Sekali-kali jangan curang, kerana sesungguhnya kitab orang yang durhaka (dosa) tersimpan dalam sijjin.
Surah Al-Tatfif (83:7)

كَلَّا إِنَّ كِتَابَ الْأَبْرَارِ لَفِي عِلِّيِّينَ

Sekali-kali tidak, sesungguhnya kitab orang-orang yang berbakti itu (pahala, tersimpan) dalam ´Illiyyin.
Surah Al-Tatfif (83:18)

Pahala dan dosa penentu bahagia dan sengsara hidup di dunia dan di akhirat.
======================================================
Di akhir hayat nanti pengadilan dijalankan Allah

الْيَوْمَ تُجْزَىٰ كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ ۚ لَا ظُلْمَ الْيَوْمَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

Pada hari ini tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang diusahakannya. Tidak ada yang dirugikan pada hari ini. Sesungguhnya Allah amat cepat hisabnya.
Surah Al-Mu’min (40:17)

يَوْمَ نَدْعُو كُلَّ أُنَاسٍ بِإِمَامِهِمْ ۖ فَمَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ فَأُولَٰئِكَ يَقْرَءُونَ كِتَابَهُمْ وَلَا يُظْلَمُونَ فَتِيلًا

(Ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) Kami panggil tiap umat dengan pemimpinnya; dan barangsiapa yang diberikan kitab amalannya di tangan kanannya maka mereka ini akan membaca kitabnya itu, dan mereka tidak dianiaya sedikitpun.
Surah Al-Isra’ (17:71)

وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِشِمَالِهِ فَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي لَمْ أُوتَ كِتَابِيَهْ

Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya (berdosa), maka dia berkata: Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini).
Surah Al-Haqqah (69:25)

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan (pahala) seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.
Surah Az-Zalzalah (99:7)

وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan (dosa) sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.
Surah Az-Zalzalah (99:8)

Pahala dan dosa benar-benar menunjukkan besarnya rahmat dan kasih sayang Allah kepada kita hamba-hamba-Nya.

Dihisab/ Tanpa hisab?
================
Dari ‘Aisyah (Ummul Mukminin): Nabi bersabda, “Tiada seorang pun yang dipanggil untuk dihisab pada Hari Kebangkitan, melainkan hanya akan binasa.”. Aku bertanya, “Wahai Nabi ALLAH! Bukankah ALLAH telah berfirman, “Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan dihisab dengan hisab yang mudah? (QS.84:7-8). Nabi ALLAH bersabda, “Tersebut maksudnya hanyalah pembentangan kitab amalan, tetapi barangsiapa yang kitab amalannya dipersoalkan pada Hari Kebangkitan, pastinya akan diazab.”. (HR Bukhary: Kitab #76, Hadith #545)

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang bersabarlah sahaja yang akan disempurnakan balasan mereka dengan tanpa dihisab”. [Surah az-Zumar, ayat 10]

Dari Ibnu ‘Abbas: Nabi bersabda, “Umat Manusia dipertunjukkan di hadapanku dan aku melihat seorang Nabi melewati dengan sekumpulan besar pengikutnya, dan seorang Nabi lagi melewati dengan hanya sekumpulan kecil pengikut, dan seorang lagi Nabi melewati dengan hanya 10 orang pengikut, dan seorang lagi Nabi melewati dengan hanya 5 orang pengikut, dan seorang lagi Nabi melewati hanya berseorangan. Kemudiannya aku memandang lagi lalu melihat segolongan manusia yang besar jumlahnya, lalu aku bertanyakan Jibril, “Adakah mereka ini pengikutku?”. Dia menjawab, “Tidak, tetapi pandanglah ke sebelah ufuk.”. Aku memandang lalu melihat segolongan manusia yang teramat besar jumlahnya. Jibril berkata, “Mereka itulah para pengikutmu, dan yang di barisan hadapannya ialah 70,000 orang yang langsung tidak dihisab amalan mereka dan tidak pula mereka diazab.”. Aku bertanya, “Kenapa sedemikian?”. Dia menjawab, “Oleh kerana mereka itu tidak terlibat dalam melecurkan diri, tidak terlibat dengan Ruqyah, tidak terlibat dengan khurafat; mereka hanya yakin dengan Tuhan mereka semata-mata.”. Mendengar itu, ‘Ukashah bin Mihsan bangun lalu berkata, “Mohonlah dari ALLAH supaya aku salah seorang dari mereka.”. Nabi bersabda, “Ya ALLAH, jadikan dia salah seorang dari mereka.”. Kemudian seorang lelaki lain bangun seraya berkata, “Mohonlah dari ALLAH supaya aku salah seorang dari mereka.”. Nabi bersabda, “Ukashah telah mendahului kamu.” (HR Bukhary: Kitab #76, Hadith #549)