TURUNNYA NUURUL QUR’AN DALAM DIRI

tasbih

Rasullullah Bersabda “Barang siapa yang memberitahukan berita Nuzulul Qur’an kepada yang lain, maka Haram An Nar baginya”.

Allah telah menciptakan segala sesuatu selalu berpasang-pasangan. Kerana segala ciptaan sudah ditetapkan selalu berpasang-pasangan, berarti Al Qur’an pun demikian, yakni ada Al Qur’an yang berwujud lahir :

“Sesungguhnya Kami menjadikan Al Qur’an berbahasa Arab supaya kamu berfikir “.
(Az zukhruf 43 : 3 )

“Sesungguhnya Kami telah memudahkan AI Qur’an itu dengan bahasamu agar dapat engkau memberi khabar gembira dengannya kepada orang-orang bertaqwa dan agar engkau memberi peringatan denganya kepada kaum yang membangkang “.
(QS Maryam 19 : 97)

Dan ada Al Qur’an yang berwujud batin (AI Qur’an yang hakiki). Al Qur’an yang hakiki jangan direlevansikan dengan lembaran kertas yang diatasnya di tulis dengan tinta hitam dalam bahasa Arab, yang berisi tentang berita dari Yang Maha Kuasa. Al Qur’an yang berupa lembaran kertas itu ditulis pada zaman khalifah Usman ratusan tahun setelah turunnya Al Qur’an yang hakiki.

Al Qur’an hakiki yang dibawa Jibril (Jabr Ilahi) adalah berupa getaran-getaran yang maha hebat. Jibril tidak mengantarkan kepada Nabi Muhammad lembaran Al Qur’an yang berupa kertas yang kita kenal sekarang, yang ditulis di batu-batu atau di pelepah-pelepah kurma agar mudah diingat.

Qul nazzalahuu ruuhul kudusi mir rabbika bil haqqi
“Katakanlah : “Ruhul Kudus menurunkan Al-Qur’an dari Rabb dengan benar”. ( An-NahI 16 :102).

Jibril (Jabr Ilahi) membawa Al-Qur’an itu dari sisi Rab-Nya. Allah berada pada dimensi yang maha halus berarti sangat mustahil Jibril (Jabar Ilahi) membawa Qur’an berupa kertas yang kasar.
“Iqra” itulah ayat yang pertama kali sekali turun, dan bukan kertas dan juga bukan suara tetapi wahyu. Kata “Iqra” adalah kata-kata yang telah ditransfer ke dalam bahasa Arab agar orang Arab atau Bani Adam saat itu dapat mengerti. Tetapi “Iqra” yang sejati ditransfer dari wahyu tanpa huruf dan tanpa suara.

Yang paling jelas apa itu AI-Qur’an yang hakiki adalah sesuai dengan firman Allah dalam AI Qur’an :

Wa innahu flu ummil kitaabi ladainaa la’alayyun hakiim
“Dan sesunggunya AI-Qur’an itu dalam induk Al-Kitab (lauh Mahfuz) di sisi Kami adalah benar-benar tinggi dan amat banyak mengandung hikmah” (QS Az Zukhruf 43:4 )

Jadi Al-Qur’an yang hakiki berada di sisi Allah yaitu di Lauhul Mahfuz, di alam yang sangat halus. Yang demikian itulah yang dibawa oleh Jibril (Jabr Ilahi) , sehingga sewaktu Nabi menerimanya terasa amat berat sekali, seperti yang disabdakannya dalam hadits berikut:

Dari Aisya ibu kaum muslimin r.a bahwasannya Harits bin Hisyam r.a bertanya kepada Rasulullah s.a.w, “wahai Rasulullah bagaimana datangnya wahyu kepada engkau? ”
Rasulullah s.a.w, bersabada, “kadang-kadang wahyu datangnya kepadaku seperti gemerincingnya loceng, itulah yang paling berat atasku, kemudian wahyu itu terputus (selesai) dan saya telah hafal tentang apa yang dikatakannya;
kadang-kadang malaikat itu menampakkan dirinya kepadaku maka saya hafal tentang apa yang dikatakannya, ”
Aisya r.a berkata, “saya melihat beliau ketika wahyu sedang turun pada suatu musim yang sangat dingin, kemudian wahyu itu terputus (selesai) sedang kening beliau mengalirkan keringat (Shahih Bukhari).

“Kadang-kadang wahyu itu seperti gemerincing loceng, itulah yang paling berat atasku….”

inilah isyarat bahwa Al Qur’an itu bukan bahasa dan realita yang sebenarnya hanya Allah dan Rasulnya yang tahu. Kalau kita ambil sebuah perumpamaan bahwa apa yang dibawa oleh Jibril (Jabar Ilahi) saat itu berupa gelombang-gelombang Cahaya dan setelah berada di bibir dan lidah Rasulullah berubah menjadi gelombang-gelombang suara.

Bila kita banding-bandingkan dengan suara petir bagaimanapun besarnya tidak pernah mencucurkan keringat manusia yang mendengarnya, namun ketika Nabi menerima wahyu beliau sampai mencucurkan keringat padahal dalam cuaca yang cukup dingin. Beliau pada saat itu merasa betapa beratnya menerima wahyu yang berupa Nur atau getaran tinggi itu, sebab Al-Qur’an adalah Nur yang Maha hebat getarannya, melebihi getaran Nuklear, melebihi getaran sang iblis, lebih dari malaikat, dan lebih dari bencana apapun namanya di dunia ini. Al Qur’an adalah sesuatu yang hidup, sesuatu yang ghaib di balik yang ghaib.

Lau anzanaa haadzal qur-aana’alla jabalil la ra-aitahuu khaasyi’am mutashaddi’ammin khasyyatillaahi wa tikal amtsaalu nadhribuhaa lin naasi la’allahum yatafakkaruun
“Seandainya kami menurunkan AI-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk pecah belah disebabkan takut kepada Allah, dan perumpamaan¬perumpamaan itu kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir. (QS Al Hasyr 99:21)

Inilah Al Qur’an yang mencucurkan keringat Nabi ketika menerimanya dari Ruhul Kudus. Inilah Al Qur’an dari Lauhul Mahfuz yang maha dahsyat dari sisi Allah, Raja di langit dan di bumi. Al Qur’an itulah yang dapat menghancurkan gunung itu. Lalu bagaimana dengan Al-Qur’an yang ditulis dalam bahasa Arab yang kita baca sehari-hari? Apakah ia bisa menghancurkan gunung?

Mari kita uji, bawa Al Qur’an yang berupa kertas itu lalu letakkan di atas gunung mana yang hancur, gunung atau Al Qur’an yang berupa kertas itu?

Al Qur’an yang tertulis itu hanya menjadi petunjuk untuk mengenal Al Qur’an yang hakiki. Yang perlu kita gali sekarang ini adalah Al Qur’an dengan segala kehebatannya bagaimana cara untuk mendapatkannya.

Bertanyalah kepada ahli dzikir jika engkau tidak mengetahui karena merekalah teknokratnya. Itulah maksud Tuhan dengan firman-Nya :
Tsumma auratsnal kitaabal ladziinash thafainaa’ibaadinaa –
kemudian kitab itu kami wariskan kepada *orang-orang yang kami pilih* di antara hamba¬hamba Kami ( QS Faathir 35:32).

Orang yang berhak menerima warisan Al Qur’an itu adalah mereka yang rohaninya hampir dengan Nabi, kalau tidak akan hancurlah orang itu, sebab Al-Qur’an itu maha hebat getarannya, melebihi dari getaran tenaga listrik, atom dan nuklear. Inilah Al Qur’an yang hakiki dari Rabbul Alamin.

Mari kita perhatikan kalimat di atas, “….kepada orang yang kami pilih, sesuatu pengkhususan bukan umum. Jadi, yang bisa mewarisinya adalah orang-orang pilihan. Siapakah orang pilihan itu ?

Laa yamassuhuu illal muthahharuun –
“AI-Qur’an (ini) tidak disentuh kecuali bagi orang-orang yang disucikan” (QS Al Waaqi’ah 56 79).

Dalam berita yang sangat popular bahawa Nabi sebelum mengadakan perjalanan Isra’ dan Mi’raj beliau dioperasi terlebih dahulu oleh Jibril dalam rangka menggalas tugas menerima sholat untuk mendapatkan Al Qur’an. Dalam tempoh bertahun-tahun beliau bertapa di Gua Hira untuk mencapai kesucian sebab beliau nantinya akan menerima Al Qur’an yang maha hebat. Kemudian mari kita renungi Nabi adalah kekasih-Nya baru bisa dan berhak menerima Al Qur’an yang hakiki tersebut harus terlebih dahulu harus disucikan.

Lantas bagaimana dengan diri kita masing-masing apakah berhak menerima Qur’an itu sebelum disucikan?

Ingat di sini bukan kata “menyucikan” tetapi “disucikan” jelas berbeda maknanya.

Al Qur’an yang harus kita warisi itu adalah yang dibawa Jibril (Jabar Ilahi) ke dalam hati Nabi.
Nazala bihir ruuhul amiin –
“Dia (AI-Qur’an) di bawa turun oleh ar ruh Al Amin”. (QS Asy syu’araa 26 : 193).

Bagaimana Jibril (Jabr Ilahi) memberikan AI Qur’an itu? Apakah dengan kata-kata yang di dengar ditelinga lalu dihafal oleh Nabi atau berupa lembaran-lembaran kertas dari surga atau berupa batu atau kayu yang ditulis, lalu Nabi membaca dan menghafalnya ?
‘Alas qalbika –
“Ke dalam Qalbu-mu (hai Muhammad) “. (QS Asy Syu’araa’ 26 : 194 ).

Al Qur’an diturunkan ke dalam hati kerana qalbu itu memiliki sifat-sifat khusus, kerana alasan itulah Al Qur’an diturunkan ke dalam qalbu. Al-Qur’an merupakan misteri, sesuatu misteri dalam misteri, suatu misteri yang terdiri dari dan diliputi oleh misteri. Oleh karena itu perlu bagi Al-Qur’an untuk menjalani proses penurunan guna mencapai tingkat yang terendah dari manusia.

Disinilah kunci kelemahan sebagian umat Muslim dewasa ini, mereka telah salah persepsi terhadap Al Qur’an akhirnya mereka terpendam jauh ke lumpur kelupaan. Al Qur’an hanya dijadikan sebagai sebuah nyanyian (mengaji). Sebagaimana hadis qudsi berikut :
“Saya tii’alaa ummatii zamaanun laa yabqaa diinuhum illaa ismuhuu walaa mina) qur aani illaa rasmuhuu
“Akan datang pada waktuku, suatu masa di mana agama Islam tinggal namanya dan Al-Qur’an tinggal tulisannya”. (H.R. Ibnu Majah dan tirmidzi).

Yang bisa berbahasa Arab, Al Qur’an itu dibaca maknanya, sejarahnya, kemudian dipermainkan diotaknya, lalu dikajinya sebagaimana proses pengkajian ilmu-ilmu filsafat. Tetapi Al Qur’an yang hakiki itu tetap tidak bisa dijangkau oleh akal.

“Bawasannya AI-Qur’an ini satu hujungnya di tangan Allah dan satu lagi di tangan kamu hai Muhammad” (H. R. Abu Syurairah Al Khuja’l).
Yang satu ujungnya di tangan Nabi, maksud hadits tersebut bukan lahirnya tetapi masih merupakan hakikat dan sangat tersembunyi di dalam diri Rasulullah.

“Al-Qur’an itu memiliki lahir dan batin, akhir dan awal” (Al Hadits).

Langkah Memahami AI-Qur’an dan Hadits
Ketahuilah bahwa Al-Qur’an dan hadits itu suatu wujud ilmu Allah yang satu, yang tiada berkesudahan atau tanpa batas.

Fikiran manusia adalah suatu penampilan jiwa yang sangat terbatas kepada empirik, tentang apa yang dilihat dan dirasakan, itu dihubung-hubungkan dengan kemudian membuat satu hipotesis atau kesimpulan.

Sebab Al-Qur’an itu adalah wahyu yang dimasukkan oleh Jibril ke dalam qalbu. la datang dari alam metafisik lalu hinggap di alam fisik.

AI-Qur’an yang batin tidak bisa ditemukan Iewat pendidikan formal. la hanya bisa ditemukan Iewat wasilah-Nya (pilihan Nya) dan lewat pengosongan diri dan dilanjutkan dengan melakukan metode liqo’ Allah.

Akhirnya dapat disimpulkan bahwa Al Qur’an itu Nur yang dipancarkan oleh Jibril (Kekuatan Allah = Jabr Allah) ke dalam hati Muhammad, lalu ia menjadi kekuatan yang tidak sebanding dengan bumi dan langit. Memperolehnya harus membersihkan diri. Adapun penghayatan semata-mata jalan untuk memperoleh karunia Allah, yang pada akhirnya kita akan mendapatkan Cahaya Al Qur’an atau Nurul Qur’an secara terus daripada Allah dan kerajaan Nya.

Carilah mursyid mu sementara masa masih ada…
Jangan berhenti setakat Islam, tapi majulah kepada Iman, lalu sampai kepada Ehsan…

Sabar itu sepenuhnya iman…

Note_20131111_080516_01

Sesungguhnya sabar itu bukanlah sebahagian iman . ..
Bahkan sabar itu sepenuhnya iman . ..

Dalil –
1. 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.
Surah Al-Baqarah (2:153)

Orang yang tiada sabar – tiada berserta Allah – Tiada iman

2.
لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا ۖ وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.
Surah Al-Baqarah (2:177)

Semua di atas memerlukan sabar 

3. 
قُلْ أَؤُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرٍ مِنْ ذَٰلِكُمْ ۚ لِلَّذِينَ اتَّقَوْا عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَأَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ

Katakanlah: Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?. Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai; mereka kekal didalamnya. Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.
Surah Ali ‘Imran (3:15)

الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

(Yaitu) orang-orang yang berdoa: Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka,
Surah Ali ‘Imran (3:16)

الصَّابِرِينَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِينَ وَالْمُنْفِقِينَ وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ

(yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur.
Surah Ali ‘Imran (3:17)

Semuanya memerlukan sabar 

4.
أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar.
Surah Ali ‘Imran (3:142)

Bagaimana kedudukan sabar?

5.
لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذًى كَثِيرًا ۚ وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.
Surah Ali ‘Imran (3:186)

Keutamaan sabar?

6.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.
Surah Ali ‘Imran (3:200)

7.
وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ۖ وَاصْبِرُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.
Surah Al-Anfal (8:46)

8.
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.
Surah Ta Ha (20:132)

9.
ثُمَّ كَانَ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِ

Dan dia (tidak pula) termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.
Surah Al-Balad (90:17)

10.
Fikirlah sendiri. Janganlah berdalih macam kaum rasul-rasul terdahulu.

11.
“Orang yang gagah perkasa tidak diukur dengan kemenangan dalam pertarungan, tetapi kekuatan yang sebenar ialah orang yang dapat mengawal dirinya (sabar) ketika marah.”

[Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim]

12.
Sa’eed bin Musayyeb berkata: Pada suatu ketika, Rasulullah SAW duduk-duduk bersama dengan para Sahabat. Muncul seorang lelaki lalu dia mencela dan memaki hamun Abu Bakar r.a hingga menyebabkan Abu Bakar ’sakit’ mendengarnya. Tetapi Abu Bakar terus mendiamkan diri. Lelaki itu meneruskan lagi celaan dengan bahasa yang lebih kasar terhadap Abu Bakar, namun beliau masih terus mendiamkan diri. Masuk kali ketiga, apabila lelaki itu terus menyakiti Abu Bakar dengan lisannya, Abu Bakar bingkas mahu menjawab balik.

Lalu Baginda Rasulullah SAW bangun. Abu Bakar r.a bertanya , ” Apakah engkau marah denganku wahai Rasulullah? ” Baginda menjawab , ” Tidak , cuma semasa kamu mendiamkan diri, Malaikat turun dari Langit bertindak(membalas) terhadap kata-kata (cacian) lelaki itu. Tetapi sebaik sahaja kamu mula membalas cacian lelaki itu, Malaikat melarikan diri lalu Syaitan datang dan duduk. Aku tidak boleh duduk di tempat yang Syaitan duduk di situ.”

[ Hadith riwayat Abu Dawud]

13.
Kesabaran merupakan dhiya’ (cahaya yang amat terang). Dengan kesabaran inilah, seseorang akan mampu menyingkap kegelapan. Rasulullah SAW mengungkapkan, “…dan kesabaran merupakan cahaya yang terang…” 

[Hadis Riwayat Muslim]

Zikir Fikir Ikhtiar

⭕⭕⭕

Setelah mengetahui yang demikian, apakah tindakan pembetulan?

❔❔❔

SABAR, LEMAH LEMBUT DAN MENAHAN AMARAH

Melatih diri untuk dapat memiliki akhlak mulia ini dapat dimulai dengan menuntut ilmu. Tanpa ilmu, tindakan kita tiada berserta Allah. Kita tidak nampak Allah dalam setiap kejadian (ehsan). Kita hanya bereaksi menurut hawa nafsu, hasutan jin, syaitan dan iblis. Apabila ilmu yang dituntut tidak dapat mengubah diri ke arah akhlak yang mulia, batalkan sahaja ilmu itu. Angkat kaki, dan teruskan pencarian.

Dengan iktikad, hanya hendak Allah dan Rasullullah. Ilmu yang hendak dituntut ialah ilmu Islam, Iman dan Ehsan.

Setelah engkau tahu rukun Islam, lanjutkanlah perjuangan mencari pembimbing bagi memahami Iman dan Ehsan.

🌐🌐🌐

Allah dan Rasulullah telah menjelaskan berbagai cara untuk menyembuhkan penyakit marah, yaitu:

1.

Secara umumnya melatih diri untuk bersabar, menahan diri ketika marah ialah menggunakan akal mempertimbangkan baik buruknya suatu perkara sebelum bertindak. 

Rasulullah memuji sahabatnya Asyaj Abdul Qais dengan sabdanya: “Sesungguhnya pada dirimu ada dua perangai yang dicintai Allah yakni sifat lemah lembut (sabar) dan ketenangan (tidak tergesa-gesa).”(H.R Muslim).

Rasulullah bersabda kepada seseorang sahabat yang meminta nasihat: “Janganlah kamu marah.” Dan beliau mengulangi berkali-kali dengan bersabda: “Janganlah kamu marah.” (HR. Bukhari).

Rasulullah bersabda: “Bukanlah dikatakan seorang yang kuat dengan bergelut, akan tetapi orang yang kuat adalah yang mampu menahan marah.” (Muttafaqun ‘Alaih).

Dari hadis ini diambil faedah bahawa marah adalah pintu kejelekan, yang penuh dengan kesalahan dan kejahatan, sehingga Rasulullah mewasiatkan kepada sahabatnya agar tidak marah.

2.

Berdoa kepada Allah yang membimbing dan menunjuk hamba-hamba Nya ke jalan yang lurus dan menghilangkan sifat-sifat jelek dan hina dari diri mereka. Allah berfirman: “Berdoalah kalian kepada-Ku nescaya akan Aku kabulkan.” (Ghafir: 60).

3.

Terus menerus berdzikir pada Allah seperti membaca Al-Quran, bertasbih, bertahmid, bertahlil, berselawat dan beristighfar. Dia berfirman: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (Ar-Ra’d : 28).

4.

Mengingat nas-nas yang menganjurkan untuk menahan amarah dan balasan bagi orang yang mampu menahan amarahnya, seperti sabda Nabi : “Barangsiapa yang menahan amarahnya sedangkan ia sanggup untuk melampiaskannya, (kelak di hari kiamat) Allah akan memanggilnya dihadapan para makhluk-Nya hingga menyuruhnya memilih salah satu dari bidadari syurga, dan menikahkannya dengan hamba tersebut sesuai dengan kemahuannya.” (HR. Tirmidzi, ibnu Majah dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani, lihat Shahihul jami’ No.6398).

5.

Mengingat bila dimarahi, Allah lah yang hakikatnya berkehendak begitu. Ini kerana nas ‘Tidak bergerak satu zarah pun melainkan kehendak Allah’. Sebenarnya Allah lah yang berkehendak supaya anda dimarah. Maka sabarlah & redhalah dengan ujian Allah.

6.

Merubah posisi ketika marah sebagaimana sabda Rasulullah: “Apabila salah seorang diantara kalian marah sedangkan ia dalam posisi berdiri, maka hendaklah ia duduk. Kalau telah reda/hilang marahnya (maka cukup dengan duduk saja), dan jika belum hendaklah berbaring.” (Al-Misykat 5114).

7.

Berlindung dari syaitan dan menghindar dari sebab-sebab yang akan membangkitkan kemarahannya. Demikianlah jalan keluar untuk selamat dari marah yang tercela.

Allah Subhanahu wa ta’ala mencintai kelembutan, sebagaimana sabda Rasulullah : ” Sesungguhnya Allah Maha Lembut dan menyenangi kelembutan dalam segala urusan. Dan Dia memberikan pada kelembutan apa yang tidak diberikan-Nya kepada kebengisan.” (HR. Muslim).

Bersegeralah menghiasi diri dengan akhlak terpuji yang dimiliki Rasulullah dan dicintai Allah ini. Dan jauhilah kemarahan, kebengisan dan ketidak ramahan, kerana yang demikian akan menghinakan darjat pelakunya dan membuat keonaran dikalangan manusia serta menimbun dosa disisi Allah Subhanahu wa ta’ala.

Sabda Rasulullah : “Barangsiapa yang dihalangi untuk berakhlak lembut, maka ia akan dihalangi dari seluruh kebaikan.”(HR Muslim)

Hadis Nabi SAW :

Di dalam dada anak cucu Adam ada seketul darah beku,

baik darah beku itu maka baiklah seluruh anggota tubuh badan. Tak baik darah beku itu maka rosaklah seluruh anggota tubuh badan.

Ketahuilah itu adalah ”NAFS” atau ”QALB”.

MULIAKANLAH DIRIMU

SEPERTI KAMU MULIAKAN AL-QURAN

DAN

LETAKKANNYA DI TEMPAT YANG TINGGI DAN TERPUJI

INILAH SEBENAR-BENAR DIRI…

(MAKAM MAHMUDAH)

Akhlak – LEMAH LEMBUT DAN MENAHAN AMARAH

LEMAH LEMBUT DAN MENAHAN AMARAH

Melatih diri untuk dapat memiliki akhlak mulia ini dapat dimulai dengan menahan diri ketika marah dan timbangkan baik buruknya suatu perkara sebelum bertindak.

Rasulullah memuji sahabatnya Asyaj Abdul Qais dengan sabdanya: “Sesungguhnya pada dirimu ada dua perangai yang dicintai Allah yakni sifat lemah lembut (sabar) dan ketenangan (tidak tergesa-gesa).”(H.R Muslim).

Rasulullah bersabda kepada seseorang sahabat yang meminta nasihat: “Janganlah kamu marah.” Dan beliau mengulangi berkali-kali dengan bersabda: “Janganlah kamu marah.” (HR. Bukhari).

Rasulullah bersabda: “Bukanlah dikatakan seorang yang kuat dengan bergelut, akan tetapi orang yang kuat adalah yang mampu menahan marah.” (Muttafaqun ‘Alaih).

Dari hadis ini diambil faedah bahawa marah adalah pintu kejelekan, yang penuh dengan kesalahan dan kejahatan, sehingga Rasulullah mewasiatkan kepada sahabatnya agar tidak marah.

Allah dan Rasullullah telah menjelaskan berbagai cara untuk menyembuhkan penyakit marah, yaitu:

Berdoa kepada Allah yang membimbing dan menunjuk hamba-hamba-Nya ke jalan yang lurus dan menghilangkan sifat-sifat jelek dan hina dari diri mereka. Allah berfirman: “Berdoalah kalian kepada-Ku nescaya akan Aku kabulkan.” (Ghafir: 60).

Terus menerus berdzikir pada Allah seperti membaca Al-Qur’an, bertasbih, bertahlil dan istighfar. Dia berfirman: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (Ar-Ra’d : 28).

Mengingat nas-nas yang menganjurkan untuk menahan amarah dan balasan bagi orang yang mampu menahan amarahnya, seperti sabda Nabi : “Barangsiapa yang menahan amarahnya sedangkan ia sanggup untuk melampiaskannya, (kelak di hari kiamat) Allah akan memanggilnya dihadapan para makhluk-Nya hingga menyuruhnya memilih salah satu dari bidadari syurga, dan menikahkannya dengan hamba tersebut sesuai dengan kemauannya.” (HR. Tirmidzi, ibnu Majah dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani, lihat Shahihul jami’ No.6398).

Mengingat bila dimarahi, Allahlah yg hakikatnya berkehendak begitu. Ini kerana nas Tidak bergerak satu zarah pun melainkan kehendak Allah. Sebenarnya Allahlah yang berkehendak supaya anda dimarah. Maka sabarlah & redhalah dengan ujian Allah.

Merubah posisi ketika marah, seperti jika ia marah dalam keadaan berdiri maka hendaknya duduk, dan jikalau duduk hendaklah berbaring, sebagaimana sabda Rasulullah: “Apabila salah seorang diantara kalian marah sedangkan ia dalam posisi berdiri, maka hendaklah ia duduk. Kalau telah reda/hilang marahnya (maka cukup dengan duduk saja), dan jika belum hendaklah berbaring.” (Al-Misykat 5114).

Berlindung dari syaitan dan menghindar dari sebab-sebab yang akan membangkitkan kemarahannya. Demikianlah jalan keluar untuk selamat dari marah yang tercela.

Allah Subhanahu wa ta’ala mencintai kelembutan, sebagaimana sabda Rasulullah : ” Sesungguhnya Allah Maha Lembut dan menyenangi kelembutan dalam segala urusan. Dan Dia memberikan pada kelembutan apa yang tidak diberikan-Nya kepada kebengisan.” (HR. Muslim).

Bersegeralah menghiasi diri dengan akhlak terpuji yang dimiliki rasulullah dan dicintai Allah ini. Dan jauhilah kemarahan, kebengisan dan ketidak ramahan, kerana yang demikian akan menghinakan darjat pelakunya dan membuat keonaran dikalangan manusia serta menimbun dosa disisi Allah ta’ala.

Sabda Rasulullah : “Barangsiapa yang dihalangi untuk berakhlak lembut, maka ia akan dihalangi dari seluruh kebaikan.”(HR Muslim)

Doa Nur Nabi Rasullullah s.a.w.

Doa Nur Nabi Rasullullah saw. 


Bismillah hir Rahman nir Rahim.

Allohummaj’al fii Qolbi Nuuro,

Ya Allah, jadikan pada Qalbuku Cahaya

Wa fii Lisaani Nuuro,

Pada lisanku Cahaya

Wa fii sam’ii Nuuro,

Pada pendengaranku Cahaya

Wa fii Bashori Nuuro,

Pada penglihatanku Cahaya

Wa min Fauqi Nuuro,

Pada atasku Cahaya

Wa min Tahti Nuuro,

Pada bawahku Cahaya

Wa ‘an Yamiinii Nuuro,

Pada kananku Cahaya

Wa ‘an Syimaalii Nuuro,

Pada kiriku Cahaya

Wa min Amaami Nuuro,

Pada depanku Cahaya

Wa min Kholfi Nuuro,

Pada belakangku Cahaya

Waj’al fii Nafsi Nuuro,

Jadikan Nyawaku Cahaya

Wa ‘aq Dzimli Nuuro,

Besarkan padaku Cahaya

Wa ‘az zimli Nuuro,

Kuatkan padaku Cahaya

Waj’al Li Nuuro,

Jadikan untukku Cahaya

Waj’al Ni Nuuro,

Jadikan ku Cahaya

Allohumma ‘aq ‘Thiinii Nuuro,

Ya Allah, berilah padaku Cahaya

Waj’al fii ‘Ashobi Nuuro,

Jadikan pada sarafku Cahaya

Wa fii Lahmii Nuuro,

Jadikan dagingku Cahaya

Wa fii Dami Nuuro,

Jadikan darahku Cahaya

Wa fii Sya’ Ri Nuuro,

Pada rambutku Cahaya

Wa fii Basyari Nuuro,

Pada kulitku Cahaya

Allohummaj’al Li Nuuron fii Qobri,

Ya Allah jadikan Cahaya pada Kuburku

Wa Nuuron fii ‘idzomi,

Cahaya pada tulangku

Wa Zidni Nuuro,

Tambahkanlah Cahaya

Wa Zidni Nuuro,

Tambahkanlah Cahaya

Wa Zidni Nuuro,

Tambahkanlah Cahaya

Wa Habli Nuuron ‘Ala Nuur…

Kurniakanlah Cahaya atas Cahaya

https://www.dropbox.com/s/fa6725b8cxk8swz/DOA%20NUR%20Rasulullah.mp4?dl=0

Asal usul kejadian manusia dalam Al-Quran

PhotoGrid_1425135008359

Asal usul kejadian manusia dalam Al-Quran..

Nabi Adam A.S.:-

Al-Hijr:- [26] Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat yang kering, yang berasal dari  tanah kental yang berubah warna dan baunya.

[33] Iblis menjawab: “Aku tidak patut sujud kepada manusia yang Engkau jadikan dia dari tanah liat yang kering,  yang berasal dari tanah kental yang berubah warna dan baunya”.

Ar-Rahman:- [14] Ia menciptakan manusia (lembaga Adam) dari tanah liat kering seperti tembikar,

Manusia selain nabi Adam A.S. dan Siti Hawa:- Terjadi dalam 3 alam kegelapan iaitu:-[NUTFAH >>MUDGHAH>>ALAGHAH].

Al-‘Alaq:- [2] Ia menciptakan manusia dari sebuku darah beku

At-Tariq:- [5] (Setelah mengetahui yang demikian), maka hendaklah manusia memikirkan: dari apa ia diciptakan. [6] Ia diciptakan dari air (mani) yang memancut (ke dalam rahim) – [7] Yang keluar dari “tulang sulbi” lelaki dan “tulang dada” perempuan.

al-najm:- [45] Dan bahawa sesungguhnya, Dia lah yang menciptakan pasangan – lelaki dan perempuan, – [46] Dari (setitis) air mani ketika dipancarkan (ke dalam rahim)

Faatir:- [11] Dan Allah menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari (setitis) air benih, kemudian Ia menjadikan kamu berpasangan (lelaki dan perempuan). Dan tiada mengandung seseorang perempuan  (juga seekor betina), dan tidak pula satu-satunya melahirkan (anak yang dikandungnya) melainkan dengan keadaan  yang diketahui Allah. Dan tidak diberikan seseorang berumur panjang, juga tidak dijadikan seseorang pendek umurnya, melainkan ada kadarnya di dalam Kitab Ilahi. Sesungguhnya yang demikian itu mudah sahaja kepada Allah.

Al-Mursalaat:- [20] Bukankah Kami telah menciptakan kamu dari air (benih) yang sedikit dipandang orang? [21] Lalu Kami jadikan air (benih) itu pada tempat penetapan yang kukuh, [22] Hingga ke suatu masa yang termaklum? [23] Serta Kami tentukan (keadaannya), maka Kamilah sebaik-baik yang berkuasa menentukan dan melakukan (tiap-tiap sesuatu)

Al-Mu’minun:- [14] Kemudian Kami ciptakan air benih itu menjadi sebuku darah beku. lalu Kami ciptakan darah beku itu menjadi seketul daging; kemudian Kami ciptakan daging itu menjadi beberapa tulang; kemudian Kami balut tulang-tulang itu dengan daging.  Setelah sempurna kejadian itu Kami bentuk dia menjadi makhluk yang lain sifat keadaannya. Maka nyatalah kelebihan dan ketinggian Allah sebaik-baik Pencipta.

Al-Hajj:- [5] Wahai umat manusia, sekiranya kamu menaruh syak (ragu-ragu) tentang kebangkitan makhluk (hidup semula pada hari (kiamat),maka (perhatilah kepada tingkatan kejadian manusia) kerana sebenarnya Kami telah menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setitik air benih, kemudian dari sebuku darah beku, kemudian dari seketul daging yang disempurnakan kejadiannya dan yang tidak disempurnakan; (Kami jadikan secara yang demikian) kerana Kami hendak menerangkan kepada kamu (kekuasaan Kami); dan Kami pula menetapkan dalam kandungan rahim (ibu yang mengandung itu) apa yang Kami  rancangkan hingga ke suatu masa yang ditentukan lahirnya; kemudian Kami mengeluarkan kamu berupa kanak-kanak;  kemudian (kamu dipelihara) hingga sampai ke peringkat umur dewasa; dan (dalam pada itu) ada di antara kamu yang  dimatikan (semasa kecil atau semasa dewasa) dan ada pula yang dilanjutkan umurnya ke peringkat tua nyanyuk sehingga ia tidak mengetahui lagi akan sesuatu yang telah diketahuinya dahulu. Dan (ingatlah satu bukti lagi);  Engkau melihat bumi itu kering, kemudian apabila Kami menurunkan hujan menimpanya, bergeraklah tanahnya  (dengan tumbuh-tumbuhan yang merecup tumbuh), dan gembur membusutlah ia, serta ia pula menumbuhkan berjenis-jenis  tanaman yang indah permai.

As-Sajdah:- [7] Yang menciptakan tiap-tiap sesuatu dengan sebaik-baiknya, dan dimulakanNya kejadian manusia berasal dari tanah; [8] Kemudian Ia menjadikan keturunan manusia itu dari sejenis pati, iaitu dari air (benih) yang sedikit dipandang orang; [9] Kemudian Ia menyempurnakan kejadiannya, serta meniupkan padanya: roh ciptaanNya. Dan Ia mengurniakan kepada kamu  pendengaran dan penglihatan serta hati (akal fikiran), (supaya kamu bersyukur, tetapi) amatlah sedikit kamu  bersyukur.

At-Tiin:- [4] Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya (dan berkelengkapan sesuai dengan keadaannya). [5] Kemudian (jika ia panjang umur sehingga tua atau menyalahgunakan kelengkapan itu-bertuhankan hawa nafsu), Kami kembalikan dia ke serendah-rendah peringkat orang-orang yang rendah, [6] Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal soleh, maka mereka beroleh pahala yang tidak putus-putus.

إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: Jadilah! maka terjadilah ia.

Surah Ya Sin (36:82)

Barakallah…

Islam, Iman dan Ehsan : kerukunan dalam Agama

Zikir Fikir Ikhtiar

Bismillah hirRahman nirRahim

●Oleh itu berilah peringatan (dengan Al-Quran dan hadis), kalau-kalau peringatan itu berguna (sudah tentu berguna);

●Kerana orang yang takut (Allah) akan menerima peringatan itu;

●Dan orang yang sangat celaka akan menjauhinya

(Al-Quran Al-A’laa 87:9-11)

Islam, Iman dan Ehsan telah menjadi kerukunan dalam Agama. Ulama mengistinbatkan ketiga-tiga rukun ini dari sebuah hadis nabi yang bermaksud,

Dari Umar r.a, beliau berkata: Pada suatu hari ketika kami duduk di dekat Rasulullah s.a.w, tiba-tiba muncul seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih dan rambutnya sangat hitam. Pada dirinya tidak tampak bekas dari perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Kemudian ia duduk di hadapan Nabi s.a.w, lalu merapatkan kedua lututnya ke lutut Nabi, dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua pahanya, kemudian berkata:

Wahai Muhammad, terangkanlah kepadaku tentang Islam.

Kemudian Rasulullah s.a.w menjawab: Islam yaitu: hendaklah engkau bersaksi tiada tuhan yang haq disembah melainkan Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah. Hendaklah engkau mendirikan sholat, membayar zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan, dan mengerjakan haji ke rumah Allah jika engkau mampu mengerjakannya.

Engkau benar.

Kami menjadi hairan, kerana dia yang bertanya dan dia pula yang membenarkannya.

Orang itu bertanya lagi: Lalu terangkanlah kepadaku tentang iman.

Hendaklah engkau beriman kepada Allah, beriman kepada para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para utusan-Nya, hari akhir, dan hendaklah engkau beriman kepada taqdir yang baik dan yang buruk.

Orang tadi berkata: Engkau benar.

Lalu orang itu bertanya lagi: Lalu terangkanlah kepadaku tentang ehsan.

Baginda menjawab: Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Namun jika engkau tidak dapat (beribadah seolah-olah) melihat-Nya, sesungguhnya Ia melihat engkau.

Orang itu berkata lagi: Beritahukanlah kepadaku tentang hari kiamat.

Baginda menjawab: Orang yang ditanya tidak lebih tahu daripada yang bertanya.

Orang itu selanjutnya berkata: Beritahukanlah kepadaku tanda-tandanya.

Baginda menjawab: Apabila budak melahirkan tuannya, dan engkau melihat orang-orang Badui yang bertelanjang kaki, yang miskin lagi penggembala domba berlumba-lumba dalam mendirikan bangunan.

Kemudian orang itu pergi, sedangkan aku tetap tinggal beberapa saat lamanya. Lalu Nabi s.a.w bersabda: Wahai Umar, tahukah engkau siapa orang yang bertanya itu ?. Aku menjawab: Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui. Lalu beliau bersabda: Dia itu adalah malaikat Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian.

(HR. Muslim).

Di zaman Rasulullah belum timbul pecahan ilmu

1■ Fekah (bab amalan) ,

2■ Usuluddin /tauhid dan

3■ Tasawuf,

Bab 2 dan 3 adalah bab Aqidah (kepercayaan,ilmu dan kerohanian) tetapi kehidupan beragama yang mengandungi Islam, Iman dan Ehsan sudahpun ditunjukkan oleh Rasulullah dan telah diamalkan oleh para sahabat.

Rujuk pendapat-pendapat

●Imam Al Ghazali,

●Prof. Hamka, http://en.m.wikipedia.org/wiki/Hamka

●Prof Dr Ali Jum’ah, Mufti Mesir, berkata: ( http://ms.m.wikipedia.org/wiki/Ali_Jum’ah )

Tasawuf adalah kaedah pendidikan kerohanian dan perilaku yang membentuk seorang Muslim hingga mencapai tingkat ehsan, yang didefinisikan oleh Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam yang bererti :

” Bahawa kamu menyembah ALLAH seakan-akan kamu melihat-Nya, jika kamu tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihat kamu.”

(Riwayat Ahmad, Musnad Ahmad; Bukhari; dan Muslim).

Semoga kita semua dapat muhasabah diri dan melihat penanda aras ini bagi mengukur tahap diri sendiri.

Inilah asas Islam yang sempurna. Akidah yang melahirkan kesempurnaan akhlak.

Akhlak menzahirkan disiplin, komunikasi dan kerjasama.

Asas inilah (yang hilang?) yang menzahirkan kehebatan diri, keluarga, institusi, masyarakat dan negara yang dipimpin oleh Rasulullah saw.

Ingatlah, berpandukan kepada Al-Quran dan Hadis takkan sesat selamanya.

73 pintu, 73 jalan, yang sampai hanya 1 jalan. ..

Zikir, fikir dan ikhtiar…

Selawat tanpa saidina

Selawat tanpa saidina

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.

Surah Al-Ahzab (33:56)

#1 Agenda terancang: pemesongan halus yahudi dan nasrani. Buatlah suatu kesalahan sebesar zarah….tapi berpanjangan

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ ۖ وَإِنَّ فَرِيقًا مِنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. (sedangkan kamu mengenal Rasulullah sebatas nama, sifat, perbuatan dan sejarahnya sahaja) Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.

Surah Al-Baqarah (2:146)

Al Baqarah 120 : “Sesungguhnya Yahudi dan Kristian tidak akan redho dengan kamu selama-lamanya sehinggalah kamu menurut cara hidup mereka. Katakanlah ‘sesungguhnya petunjuk ALLAH itulah petunjuk yang benar’. Dan sesungguhnya jika kamu memilih untuk mengikuti kemahuan Yahudi dan Kristian ini setelah datang kepada kamu ‘ilmu (Al Quran), maka ALLAH tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu”.

#2 Dalil apa yang Rasullullah katakan 73 pecahan Islam Akhir zaman….

Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang-orang yang berada di muka bumi ini, nescaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.

Al-An`aam:116

Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam  bersabda:

“وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً فَوَاحِدٌ فِي الْجَنَّةِ وَثِنْتَانِ وَسَبْعُوْنَ فِي النَّارِ قِيْلَ مَنْ هُمْ يَا رَسُوْلَ اللهِ قَالَ: أَهْلُ السَّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ”.

Terjemahan:

“Demi Tuhan yang jiwa Muhammad di dalam kekuasaan-Nya, umatku akan berpecah kepada 73 golongan, maka satu golongan masuk syurga dan 72 golongan yang lain masuk neraka, maka para sahabat bertanya siapakah mereka yang Rasulullah? Nabi bersabda: Ahl al-Sunnah Wa al-Jama`ah”.

[Diriwayatkan oleh al-Tabarani]

Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam  bersabda:

“عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: تَفَرَّقَتْ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَالنَّصَارَىْ مِثْلَ ذَلِكَ وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً”.

Terjemahan:

“Daripada Abi Hurairah radiyallahu`anhu, beliau berkata: bahawasanya Rasulullah sallallahu`alaihai wasallam bersabda: Orang Yahudi telah berpecah kepada 71 golongan dan Nasrani seperti itu juga, dan Umatku pula akan berpecah kepada 73 golongan”.

[Diriwayatkan oleh al-Tirmizi]

Semua orang Islam pun mengaku dia Ahl al-Sunnah Wa al-Jama`ah…. Jadi nak rujuk siapa?

Rujuk kepada sumber  yang ada jaminan takkan sesat selamanya….

#3 Apa kata yang empunya diri? … kenal dia.. kenal dia… kenal dia…. Seperti kamu kenal anak-anak kamu sendiri.

Anas bin Malik r.a. berkata,

“Seorang lelaki telah datang kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi was Sallam seraya berkata: “Ya Muhammad! Ya Sayyidina Ibni Sayyidina! Wahai yang terbaik di kalangan kami dan anak kepada yang terbaik di kalangan kami!” Rasulullah menjawab: “Wahai manusia, hendaklah kalian bertaqwa dan jangan membiarkan syaitan mempermainkan engkau.

Sesungguhnya aku adalah Muhammad bin Abdillah, hamba Allah dan Rasul-Nya;

dan aku bersumpah kepada Allah bahawasanya aku tidak suka sesiapa mengangkat kedudukan aku melebihi apa yang telah Allah ‘Azza wa Jalla tentukan bagiku”.”

(Diriwayatkan oleh Ahmad di dalam Musnadnya, hadis no. 12551, jil. 3, m/s. 153.

Awas, janganlah berbuat sesuatu yang Rasullullah tak suka. Siapa engkau yang hendak menetapkan hukum selain Allah, Rasullullah, Al-Quran dan hadis????

Kiasnya : cuba engkau letakkan diri Rasulullah dalam engkau sendiri . kau ada sesuatu yang engkau tak suka orang sebut. Walaupun ianya benar. bagaimana engkau rasa apabila orang sebut juga…

Fikir… Dapatkan pembimbing yang benar.

#4 Jangan khianat dan memandai-mandai

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.

Surah Al-Anfal (8:27)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu (memandai-mandai) mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Surah Al-Hujurat (49:1)

Masih ada Iblis, syaitan, jin dan hawa nafsu yang membisikkan was-was kepadamu?

#5 Berikut adalah contoh selawat tanpa Saidina daripada hadis:

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ، اَللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ

“Ya Allah, berilah rahmat kepada Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah memberikan rahmat kepada Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung. Berilah berkah kepada Muhammad dan keluarganya (termasuk anak dan isteri atau umatnya), sebagai-mana Engkau telah memberi berkah kepada Ibrahim dan keluarganya. Se-sungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung.”

(Hadis Riwayat al-Bukhari dalam Fathul Bari, 6/408)

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

“Ya Allah, berilah rahmat kepada Muhammad, istri-istri dan keturunannya, sebagaimana Engkau telah memberikan rahmat kepada keluarga Ibrahim. Beri-lah berkah kepada Muhammad, istri-istri dan keturunannya, sebagaimana Eng-kau telah memberkahi kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung.”

(Hadis Riwayat al-Bukhari dalam Fathul Bari, 6/407 dan Imam Muslim meriwayatkannya dalam kitabnya, 1/306. Lafazh hadis tersebut menurut riwayat Muslim)

#6 Pandangan ahli kasyaf

Iaitu mereka …

“Yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (Al-Kahfi: 65)

Allah berfirman melalui rasul-Nya:

Para sahabat-Ku tersembunyi di bawah kubah-Ku.

Tiada yang mengenali mereka kecuali Aku.

Dia kurniakan hikmah kepada sesiapa yang Dia kehendaki, dan Barangsiapa dikurniakan hikmah maka sesungguhnya dia telah diberi kebajikan yang banyak. (Surah Baqarah, ayat 269).

Mereka mereka ini kasyaf, iaitu dapat melihat bukan setakat lapisan kebendaan yang zahir, tetapi hijabnya diangkat sehingga dapat melihat yang batinnya juga… Contohnya cahaya selawat …

perbandingan cahaya selawat dengan saidina dan tanpa saidina ialah hanyalah sebesar jarum… Berbanding dengan cahaya selawat tanpa saidina…. selawat yang sikit sebesar bola… (bergantung kepada tahap Islam, iman dan ehsan seseorang)

#7 Ya Allah engkau menjadi saksi aku telah menyampaikan…

Terpulanglah kepada diri masing masing buatlah kesimpulan.

“Aku tinggalkan kamu dua perkara, kamu tidak akan sesat selama mana kamu berpegang dengan kedua-duanya, iaitu kitab Allah (Al-Qur’an) dan sunnahku.”

(HR Malik bin Anas dalam al-Muwattha’ – no: 1619)

Ingat… Bukan ustaz… Bukan imam… Bukan guru…Bukan kitab online, cut and paste menentukan Iktikad kamu…

Semuanya akan ditanyai kelak…

Guru yang sebenar benar guru ada dalam dada dan atas kepala kamu…

Selamat beribadah!